Rabu, 02 September 2020

Kerajaan Kediri

Wawan Setiawan Tirta
Kehidupan   politik   pada   bagian   awal   di   Kerajaan   Kediri   ditandai   dengan   perang   saudara   antara   Samarawijaya   yang   berkuasa di Panjalu dan Panji Garasakan yang berkuasa di Jenggala. Mereka  tidak  dapat  hidup  berdampingan.  Pada  tahun  1052  M  terjadi  peperangan  perebutan  kekuasaan  di  antara  kedua  belah  pihak.  Pada  tahap  pertama  Panji  Garasakan  dapat  mengalahkan  Samarawijaya,  sehingga  Panji  Garasakan  berkuasa.  Di  Jenggala  kemudian  berkuasa  raja-raja  pengganti  Panji  Garasakan.  Tahun  1059 M yang memerintah adalah Samarotsaha.
 berkuasa di Panjalu dan Panji Garasakan yang berkuasa di Jenggala Kerajaan Kediri

 Akan tetapi setelah itu tidak terdengar berita mengenal Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Baru pada tahun 1104 M tampil Kerajaan Panjalu sebagai rajanya Jayawangsa. Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri dengan ibu kotanya di Daha.Tahun 1117 M Bameswara tampil sebagai Raja Kediri Prasasti yang  ditemukan,  antara  lain  Prasasti  Padlegan  (1117  M)  dan  Panumbangan  (1120  M).

Isinya  yang  penting  tentang  pemberian  status perdikan untuk beberapa desa.Pada  tahun  1135  M  tampil  raja  yang  sangat  terkenal,  yakni  Raja Jayabaya. Ia meninggalkan tiga prasasti penting, yakni Prasasti Hantang atau Ngantang (1135 M), Talan (1136 M) dan Prasasti Desa Jepun  (1144  M).
Prasasti  Hantang  memuat  tulisan  panjalu  jayati,  artinya  panjalu  menang.  Hal  itu  untuk  mengenang  kemenangan  Panjalu  atas  Jenggala.  Jayabaya  telah  berhasil  mengatasi  berbagai  kekacauan di kerajaan.
Di   kalangan   masyarakat   Jawa,   nama   Jayabaya   sangat   dikenal karena adanya Ramalan atau Jangka Jayabaya. Pada masa pemerintahan Jayabaya telah digubah Kitab Baratayuda oleh Empu Sedah dan kemudian dilanjutkan oleh Empu Panuluh.

Perkembangan Politik, Sosial, dan Ekonomi
Sampai masa awal pemerintahan Jayabaya, kekacauan akibat pertentangan dengan Janggala terus berlangsung.Baru pada tahun 1135  M  Jayabaya  berhasil  memadamkan  kekacauan  itu.  Sebagai  bukti, adanya kata-kata panjalu jayati pada prasasti Hantang. Setelah kerajaan  stabil,  Jayabaya  mulai  menata  dan  mengembangkan  kerajaannya.

Kehidupan  Kerajaan  Kediri  menjadi  teratur.  Rakyat  hidup  makmur. Mata pencaharian yang penting adalah pertanian dengan hasil utamanya padi. Pelayaran dan perdagangan juga berkembang. Hal  ini  ditopang  oleh  Angkatan  Laut  Kediri  yang  cukup  tangguh.  Armada laut Kediri mampu menjamin keamanan perairan Nusantara. Di  Kediri  telah  ada  Senopati  Sarwajala  (panglima  angkatan  laut).  Bahkan  Sriwijaya  yang  pernah  mengakui  kebesaran  Kediri,  yang  telah   mampu   mengembangkan   pelayaran   dan   perdagangan.  

Barang perdagangan di Kediri antara lain emas, perak, gading, kayu cendana, dan pinang. Kesadaran rakyat tentang pajak sudah tinggi. Rakyat  menyerahkan  barang  atau  sebagian  hasil  buminya  kepada  pemerintah.

Menurut  berita  Cina,  dan  kitab  Ling-wai-tai-ta  diterangkan  bahwa  dalam  kehidupan  sehari-hari  orang-orang  memakai  kain  sampai  di  bawah  lutut.  Rambutnya  diurai.

Rumah-rumah  mereka  bersih  dan  teratur,  lantainya  ubin  yang  berwarna  kuning  dan  hijau.  Dalam  perkawinan,  keluarga  pengantin  wanita  menerima  mas  kawin  berupa  emas.  Rajanya  berpakaian  sutera,  memakai  sepatu,  dan  perhiasan  emas.  Rambutnya  disanggul  ke  atas.  Kalau  bepergian, Raja naik gajah atau kereta yang diiringi oleh 500 sampai 700 prajurit.
Di bidang kebudayaan, yang menonjol adalah perkembangan seni  sastra  dan  pertunjukan  wayang.  Di  Kediri  dikenal  adanya  wayang panji.

Beberapa karya sastra yang terkenal, sebagai berikut.

1.Kitab Baratayuda
Kitab   Baratayudha ditulis   pada   zaman   Jayabaya,   untuk   memberikan  gambaran  terjadinya  perang  saudara  antara  Panjalu melawan Jenggala. Perang saudara itu digambarkan dengan perang antara Kurawa dengan Pandawa yang masing-masing merupakan keturunan Barata.

2.Kitab Kresnayana
Kitab Kresnayana ditulis oleh Empu Triguna pada zaman Raja Jayaswara.  Isinya  mengenai  perkawinan  antara  Kresna  dan  Dewi Rukmini.

3.Kitab Smaradahana
Kitab Smaradahana ditulis pada zaman Raja Kameswari oleh Empu Darmaja. Isinya menceritakan tentang sepasang suami istri Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara  dan  Rail  kena  kutuk  dan  mati  terbakar  oleh  api  (dahana)  karena  kesaktian  Dewa  Syiwa.  Akan  tetapi,  kedua  suami  istri  itu  dihidupkan  lagi  dan  menjelma  sebagai  Kameswara dan permaisurinya.

4.Kitab Lubdaka
Kitab  Lubdaka  ditulis  oleh  Empu  Tanakung  pada  zaman  Raja  Kameswara.  Isinya  tentang  seorang  pemburu  bernama  Lubdaka.  Ia  sudah  banyak  membunuh.  Pada  suatu  ketika  ia  mengadakan  pemujaan  yang  istimewa  terhadap  Syiwa,  sehingga  rohnya  yang  semestinya  masuk  neraka,  menjadi  masuk surga.


Raja   yang   terakhir   di   Kerajaan   Kediri   adalah   Kertajaya   atau   Dandang   Gendis.   Pada   masa   pemerintahannya,   terjadi   pertentangan antara raja dan para pendeta atau kaum brahmana, karena Kertajaya berlaku sombong dan berani melanggar adat. Hal ini memperlemah pemerintahan di Kediri.Para brahmana kemudian mencari perlindungan kepada Ken Arok yang merupakan penguasa di Tumapel. Pada tahun 1222 M, Ken Arok dengan dukungan kaum brahmana  menyerang  Kediri.  Kediri  dapat  dikalahkan  oleh  Ken  Arok.